"SELAMAT TAHUN BARU HIJRIYAH, HARI NATAL DAN TAHUN BARU 2009, SEMOGA DAMAI BERSAMA..; ~RESENSI~: 03/29/08

Sabtu, 29 Maret 2008

Setetes Embun Penyejuk dalam Kegersangan Spiritual

Surat Cinta Al-Ghazali : Nasihat-nasihat Pencerahan Hati
Penulis : Islah Gusmian
Penerbit : Mizania PT Mizan Pustaka
Cetakan : Pertama, Maret 2006
Tebal : 236 halaman

Mengapa banyak orang yang berilmu tetapi merasa hidupnya gersang dan tak makna?dan mengapa kita harus menguasai seluruh ilmu jika pada akhirnya tidak bermanfaat bagi diri sendiri apalagi orang lain?. Pertanyaan “men-gelisahkan” itu senantiasa mengusik hati salah seorang murid Imam Al Ghazali.

Kegelisahan ini akhirnya mendorongnya menulis surat kepada gurunya—Imam Ghazali— untuk membuatkan ringkasan tentang ilmu yang bermanfaat. Permintaan tulus dari seorang murid ini akhirnya mendorong Imam Al Ghazali menulis sebuah kitab terkenal yang berjudul kitab Ayyuhal-Walad.
Dunia moderen yang begitu cepat bergulir, diiringi dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang sangat pesat pula. Puncak keberhasilan IPTEK adalah manusia berhasil menginjakkan kakinya di bulan—meski diwakili oleh Niel Amstrong levat misi Apollo beberapa tahun silam. Tetapi dalam kejayaan IPTEK tersebut timbul persoalan baru yang disebut Daniel Bell sebagai “kegersangan intelektual spiritual”.
Ilmu serasa tak bermakna dan tak berarti dalam kehidupan. Orang yang berilmu, tetapi ia tidak menemukan apa-apa dalam ilmunya selain kegersangan dan kehampaan. Kaum eksistensial melukiskan posisi manusia ini “dalam kesadaran naif dan eksistensi semu” yang tiada berujung. Akhirnya, lahirlah intelektual-intelektual yang disebut Bergson sebagai ilmuwan yang kehilangan elan vital dalam kehidupannya.
Persoalan ini terjadi karena manusia kehilangan spirit ketuhanan dalam dirinya, hilangnya amal dari ilmu dan hilangnya ilmu dari amal. Untuk mengatasi kegersangan intelektual spiritual tersebut, Al Ghazali dalam kitabnya tersebut memberikan beberapa wasiat diantaranya: pertama, manusia harus senantiasa meneladani ahklaq Rasulullah SAW.

Meneladani pribadi rasul bukan tanpa sebab, semata-mata karena diri dalam beliau terpancar akhlak serta budi pekerti yang luhur tiada tandingannya. Sampai-sampai, seorang orientalis barat bernama Mout Gomory Watt begitu gandrung terhadapnya.
Bahkan dengan jujur George Bernad Shaw —juga seorang orientalis— melukiskan jika rasul hadir pada zaman modern, niscaya beliau dapat mengatasi segala persoalan kehidupan dan membawa kehidupan umat manusia ke arah kebahagian.
Kedua, memanfaatkan waktu secara tepat. Al Quran surat Al-Ashar 1-3 dengan tegas menjelaskan pentingnya penggunaan waktu secara tepat. Hidup akan terasa bermakna manakala kita menghargai waktu.
Ketiga, mengamalkan ilmu dengan ikhlas. Jika menjadi seorang guru, ia harus ikhlas mengamalkan ilmunya kepada murid-muridnya tanpa embel-embel apapun. Laksana ibu pada anaknya dan laksana orang membuang hajat. Transfer ilmu guru pada murid tidak hanya secara kognitif, tetapi seluruh pribadi guru idealnya mewarnai kehidupan muridnya.
Menurut Al Ghazali, seorang guru haruslah berusaha mewarisi budi pekerti Rasulullah SAW. Bandingkan dengan guru-guru yang mengajar saat ini, di mana hubungan antara guru dengan murid hanya diukur dari sudut finansial saja, tanpa ada rasa tanggung jawab terhadap ilmu yang telah diajarkannya.
Keempat, menghiasi malam dengan shalat tahajud. Menurut tradisi Tao saat sepertiga malam terakhir energi yang akan aktif hingga pada titik optimal. Energi yang adalah energi aktif alam raya ini. Oleh karena itu penganut ajaran Tao menggunakan waktu tersebut untuk melatih chi kung dan taichi —yaitu menyerap energi yang seoptimal mungkin. Efeknya, tubuh menjadi sehat dan pikiran menjadi jernih. Sangat tepat bila Rasulullah menganjurkan umatnya untuk melakukan zikir dan tafakur. Kegiatan tersebut membuat tubuh kita menyerap energi yang sehingga hati menjadi tentram dan kreatifitas pun meningkat pula. (hal 89)
Kelima, investasikan dunia untuk akhirat, artinya menjadikan seluruh kegiatan di dunia sebagai amalan untuk kehidupan di akhirat kelak. Kelima, menjaga tuhan dalam hati dan menyerahkan hidup pada kehendak-Nya. Artinya menjadikan tuhan sebagai kekasih di atas segala-galanya. Karena tuhan sudah menjadi kekasih kita, maka kita akan melakukan apa saja untuk kekasih kita tersebut. Tak ada seseorang yang akan menolak manakala diminta berkorban untuk pujaan hatinya.
Membaca buku ini laksana menemukan oase di padang pasir yang tandus, kita akan disuguhi nasihat luhur yang diterjemahkan dengan konteks kehidupan nyata. Hasilnya, penghayatan yang sangat sempurna. Meskipun buku ini hanya merupakan “penafsiaran kontekstual” atas kitab Ayyuhal-Walad kaya Imam Ghazali tetapi cukup membumi dengan kehidupan sehari-hari sehingga bisa menjadi embun penyejuk dalam kegersangan sepiritual manusia modern.[]

Baca Selanjutnya......

Sepak Bola Tanpa Batas


Judul Buku : Sepak Bola Tanpa Batas

Penulis : Anung Handoko
Penerbit : Penerbit Kanisius

Cetakan : Pertama, 2008
Tebal : 160 halaman

Pada mulanya, permainan sepak bola dicipta sebagai sarana mengisi waktu luang sembari untuk berolah raga. Akan tetapi, saat ini sepak bola menjelma menjadi ”permainan mahal,” karena menjadi media bisnis besar-besaran yang melibatkan para penguasa dunia. Lebih dari itu, sepak bola bisa merubah status sosial seseorang lantaran kekayaan dan popularitas yang diperoleh para pemainnya.

Selain itu, sepak bola memiliki beberapa keunikan. Pertama, sepak bola merupakan cabang olahraga yang memiliki magnet luar biasa bagi masyarakat luasolahraga sepak bola bukan saja terbuka dalam menampilkan kerja tim (kompak atau kacau), juga mampu membakar semangat pemain dan ofisial serta menebarkan hubungan emosional yang kuat dengan suporter dan penonton.

Kedua, sepak bola ternyata bukan sekadar menarik dalam kompetisi olahraga atau event besar,olahraga yang paling digemari di seluruh dunia ini juga berhasil menjadi fokus interaksi publik atau focused interaction, meminjam istilahnya Erving Goffman (1992). Yaitu fokus interaksi yang terjadi ketika orang secara efektif sepakat untuk menopang waktu sebagai satu fokus dari perhatian kognitif dan visual seperti dalam sebuah perbincangan, papan permainan, atau tugas gabungan yang didukung oleh sebuah lingkaran para kontributornya yang dekat dan saling berhadapan.

Kita tentu masih ingat dengan pertandingan sepak bola Piala Asia (Asian Cup) 2007, beberapa waktu lalu. Tim kesebelasan merah-putih harus menelan pil pahit lantaran dikalahkan 2-1 oleh Arab Saudi pada menit-menit terakhir menjelang pertandingan Usai. Begitu juga saat melawan Korea Selatan, tim kita dipaksa bertekuk lutut 1-0.

Meski pada akhirnya tim merah-putih kandas untuk meraih posisi puncak pada event ini, setidaknya kita bersyukur ternyata sepak bola masih mampu merekatkan solidaritas bangsa ini. Silang-sengketa dan benih-benih disintegrasi sejenak terlindas oleh perasaan senasib dan seperjuangan untuk meraih juara Asia.

Tatkala kesebelasan kita berlaga melawan Arab Saudi maupun Korea Selatan (Korsel), seluruh lapisan rakyat meluangkan waktunya dan bersatu-padu memberi dukungan mental bagi tim kesayangannya. Entah politisi, artis, maupun elemen yang tadinya berseteru, saling tikam dan saling tuding, sejenak melupakan persoalan itu dan duduk bersama sembari melihat permainan cantik kesebelasan kita. Bahkan, presiden Susilo Bambang Yodhoyono (SBY) beserta keluarga, rela berdesak-desakan masuk gelora Bung Karno hanya untuk memberi semangat “pahlawan” negaranya.

Menurut Jay J. Coakley dalam Sport in Society, Issues and Controversies (1986), fenomena solidaritas olahraga ini secara sosiologis memiliki mata rantai dengan unsur-unsur kehidupan, diantaranya: Pertama, relasi organisasi sosial, perilaku kelompok, dan pola-pola interaksi sosial yang eksis dalam semua tipe yang berbeda. Kedua, proses-proses sosial yang terjadi dengan olahraga, seperti sosialisasi, kompetisi, kooperasi, konflik, stratifikasi sosial, dan perubahan sosial.

Piala Asia 2007 sebagai perhelatan pertandingan sepak bola yang diikuti oleh kesebelasan-kesebelasan terbaik di kawasan Asia juga bisa luar biasa memukau dan fantastis. Meski tak sehebat Copa Amerika, Piala Afrika maupun kejuaraan Eropa, maupun Piala Dunia (World Cup),namun potensi 1.5 miliar penduduk di kawasan Asia diharapkan akan mengangkat profilnya.

Piala Asia tetap bisa menjadi pusat perhatian sekaligus menjadi media untuk menghimpun publik yang berhasil memalingkan perhatian mereka dari kesibukan rutin sehari-hari. Pada even ini muncul pemain-pemain berbakat yang bermain di Liga-Liga Eropa, misalnya Shunsuke Nakamura yang bermain di Glasgow Celtic, Mark VIduka di Newcastle, Harry Kewell dari Liverpool dan Naohiro Takahara di klub Jerman Frakkfurt akan turun.

Muncul pula tim-tim unggul yang sebelumnya tidak terprediksikan, misalnya Arab Saudi dan Irak. Tim kesebelasan Arab Saudi berhasil menundukkan Jepang dengan sangat manis. Padahal Jepang pada Piala Dunia 2002 menjadi wakil dari benua Asia. Mengejutkan lagi keberhasilan kesebelasan Irak menundukkan Korea Selatan.

Kemenangan Irak melalui adu tendangan penalti yang dramatis atas Korea Selatan hari Rabu membuat ribuan orang turun ke jalan-jalan raya di Baghdad sambil mengibarkan bendera, menyanyi, dan melepaskan tembakan secara serampangan ke udara.

Sementara itu, mayoritas penduduk Irak dari berbagai masyarakat yang saling berperang di negara tersebut menyambut gembira kemenangan tersebut dan menikmati momen kebahagiaan nasional yang jarang terjadi itu, para pemberontak yang menggunakan bom mobil meledakkan dua bom mereka di antara kerumunan orang. Akibatnya 50 orang penduduk sipil Irak dan seorang polisi tewas akibat ledakan itu, 90 lainnya luka-luka, dan 18 kendaraan hancur.

Buku yang ada di tangan pembaca ini, berusaha menelisik asal-usul permainan sepak bola beserta nilai-nilai atau mukjizat-mukjizat yang membingkainya. Paling tidak, buku ini bisa dijadikan salah-satu rujukan bagi para peneliti yang ingin mengetahui lebih lanjut seluk-beluk sepak bola. Meski demikian, buku ini perlu dilengkapi dengan kajian sejarah sepak bola yang mendalam, serta hal-ikhwal mengapa sepak bola yang dahulu hanya permainan yang sifatnya sekedar untuk hiburan, berubah menjadi permainan yang diperdagangkan....Selengkapnya lihat di http://www.aguswibowo82.blogspot.com atau www.agus82.wordpress.com

Baca Selanjutnya......
- |